Rabu, 03 November 2010

S-2 Laris Manis


Oleh : R.J.Kadarisman

" Selamat siang, kenalkan nama saya Drs. Panurata, MM, MSi, MSc, Mber.... Oleh pimpinan saya ditunjuk untuk memimpin lembaga ini selama kurun waktu tertentu, dan saya berharap dapat bekerjasama dengan saudara-saudara sekalian." Sebelumnya saya adalah kepala sekolah SMU "Kada Jelas" yang cukup ternama di kota ini. Dan di belakang nama saya ini masih saya cantumkan sederetan title yang saya miliki. Jangan salah lho, Saya menyelesaikan studi S2 dalam waktu yang relatif bersamaan, dan tindak tanggung-tanggung saya adalah alumni dari beberapa perguruan tinggi ternama." Kata sang kepala sekolah dalam acara perkenalan di suatu jamuan sederhana.

Hebat dan heboooh, di zaman yang serba aneh ini, segala sesuatu mungkin saja terjadi. Sebagaimana peristiwa di atas. Sebuah potret pendidikan yang kita jumpai di masyarakat, dan mungkin ini sedang in dan trend serta menjadi wabah bahwa para kepala sekolah tingkat SMU/SMK dan juga di lingkungan Diknas harus bergelar S-2. Sedemikian hebat dan "ampuhkah" gelar yang mereka miliki untuk turut memikirkan konsep pendidikan. Boro-boro berfikir untuk perbaikan kualitas pendidikan, mungkin gagasan untuk peningkatan mutu blas tidak ada sama sekali.

Sebenarnya apa sih yang didambakan dari gelar ini ?? Kalau toh pada akhirnya tdak mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu pendidikan secara signifikan ?? Keberhasilan sekolah bukan terletak pada background kepala sekolah yang bergelar master, namun lebih ditentukan oleh kemampuan untuk mengorganisir semua potensi yang ada di lembaga itu sendiri.Seorang guru pada sebuah sekolah pernah mengeluh bahwa di sekolahnya dalam satu tahun sudah ganti kepala sekolah sampai tiga kali, baginya hal itu tidaklah penting. Meskipun dalam sehari kepala sekolah tempat dia mengajar berganti seratus kali tidak akan berpengaruh pada dirinya. Saat ditanya mengapa, dengan enteng dia menjawab : " Karena Saya cuma guru honor yang tidak akan pernah direken ( dihitung), mendingan Tessy atau Timbul yang jadi kepala sekolah di sini !! Biar tiap hari bisa tertawa". Sebuah pengakuan yang lugu dan jujur dari seorang guru honor yang sudah mengabdi selama hampir empat tahun.Menurutnya hal ini patut dicatakan dalam MURI (Museum Rekor Indonesia ) sebagai suatu prestasi gemilang yang patut diketahui khalayak, dan mungkin tidak ada duanya di Indonesia. Dapat dibayangkan bila dalam waktu singkat sebuah sekolah negeri dapat berganti pimpinan sampai sekian kali, inilah salah satu bukti tidak becusnya kaum birokrat di pemerintahan, meskipun mereka banyak yang bergelar master.....( sampai-sampai mungkin ada juga yang bergelar Drunken Master alias sang Dewa Mabuk ), untuk mensikapi kejadian di atas ternyata tidak mampu.

Ada pengalaman berharga yang dapat diungkapkan pada kesempatan ini, dimana penulis melihat dari dekat betapa bobroknya mutu Pendidikan Magister. Saat penulis mendampingi seorang kolega menyelesaikan tesis S-2nya di kota Yogyakarta, para mahasiswa program S-2 dari kota tepian yang terdiri dari wakil rakyat, istri pejabat pemerintah dan juga praktisi hukum, banyak yang mengambil jalan pintas untuk meraih gelar bergengsi ini. Saat uji kemampuan bahasa Inggris, banyak diantara mereka menempuh cara-cara yang sudah tidak bukan rahasia lagi. Itu dari segi kemampuan TOEFL apalagi bila ditinjau dari segi isi tesis mereka ... waooo .. mantap.. ( kata Mastur dalam iklan multi roof ).

Inilah realita pendidikan di negeri ini, yang terkadang amat sangat memalukan. Bagaimana beliau-beliau dapat memberikan teladan yang baik untuk putra-putri dan masyarakat kalau mereka sendiri melakukan praktik yang tercela !! Para Magister yang terhormat apa jawabmu ...???? **

Sarjana Tanda Tangan Lulus




Oleh : R.J.Kadarisman

" Mau kemana om, minggu-minggu kok enggak ikutan mbersihin kampung, malah bawa buku tebel. Lha kok bajunya setil (rapi dan trendy)" tanya seorang bocah pada sang paman.
" Om mau pergi kuliah " jawab sang paman datar. Masih tidak puas dengan jawaban tadi sang bocah bertanya lagi:
" Kuliah , emang ada kuliah hari Minggu, jangan-jangan om mau apel ya " Kata sang bocah lagi.
" Hus, anak kecil tahu apa, gini-gini om sudah semester akhir lho, meski kuliahnya cuma Sabtu - Minggu kayak perkemahan pramuka, yang penting khan kuliah dan ada embel-embelnya besok. Sana main aja, kencing belum lurus aja banyak nanya... dasar sontoloyo " kata sang paman dengan nada tinggi mengusir si bocah.

Sambil ngeloyor pergi Sontoloyo cuman bilang : " iya seperti bapaknya Panjul, kuliah enggak pernah, tahu-tahu besok wisuda ya Om. Katanya sih bapaknya Panjul lulusan STTL alias Sarjana Tanda Tangan Lulus " kata si bocah setengah mengejek.

Ya inilah realita dunia pendidikan kita, kalau mau jujur dibeberapa kabupaten sejalan dengan semangat otonomi daerah dan gerakan giat belajar, telah bermunculan perguruan tinggi baik yang berafiliasi dengan PT di daerah lain yang menawarkan masa kuliah singkat tapi dapat gelar. Mulai dari PT yang katanya ada kerjasama dengan PTN ternama di P. Jawa dan Sulawesi sampai-sampai PT yang menggunakan nama Raja-raja zaman dulu. Mungkin saja tanpa ada seleksi yang ketat dari Kopertis ada PT yang diberi nama Universitas Mpu Gandring, Sekolah Tinggi Ken Arok dan lain sebagainya. Dalam liflet dan selebaran promosi yang dicetak dengan kertas deluxe menawarkan biaya murah dan waktu tempuh hanya 2 tahun dapat gelar S-1. Bahkan yang paling menggelikan lagi para mahasiswanya banyak berasal dari unsur dunia pendidikan dan pegawai tingkat desa dan kecamatan. Yang notabene memahami model perkuliahan dan juga output yang akan dihasilkan. Sebutlah Kepala SD anu, pegawai kantor Diknas, staf ahli kelurahan dan kecamatan ikut-ikutan mengambil program ini. Selentingan yang beredar sih biar tambah keren dan bisa ikutan ngomong di sana -sini dalam berbagai forum pertemuan kalangan intelek (katanya) di tingkat desa dan kecamatan. Selain itu juga tidak mau kalah dengan bapak-bapak pejabat daerah yang juga bergelar MM, MSi, MPd, M......ber.

Fenomena menarik dari sebuah bangsa yang masyarakatnya baru saja bangun dari tidur panjang dan setengah terperanjat akan adanya perubahan paradigma pendidikan. Mereka berlomba-lomba untuk ikut menyemarakan eforia " Pendidikan adalah kunci Masa depan. "

Pendapat itu sah-sah saja dan tak ada yang melarang, namun ya harus dilihat pendidikan model yang bagaimana yang harus diikuti, bukan hanya sebatas mengejar title dan gelar kesarjanaan saja yang pada akhirnya berbuntut pada pelecehan gelar akademik seperti judul dia atas " Sarjana Tanda Tangan Lulus". Dan memang ini telah terjadi di sekitar kita. Tak pernah masuk dan hanya titip tanda tangan atau masuk tempo-tempo dua tahun kemudian lulus. Yang penting SPP lancar dan ada THR untuk dosen pasti lancar. Apakah memang ini yang sedang kita cari dari sebuah bangsa yang pernah merasakan pembodohan dan pembatasan hak untuk meraih pendidikan yang layak. Akhirnya semua dikembalikan pada diri masing-masing apakah para sarjana STTL ini siap untuk dan berani untuk terjun kemasyarakat dan berperan aktif di masyarakat sebagai tuntunan dan bukan menjadi Tontonan. Kalau masih hanya sebatas duduk dan mendengarkan pendapat orang lain, dan tidak mampu mengambil peran aktif kiranya hanya ucapan Selamat menjadi Sarjana Tanda Tangan Lulus yang layak diberikan.***